Monday, July 20, 2009

Kedatanganku 13 Tahun Kemudian

Senin [20 Juli 2009]; Kemarin (19/7) aku, Haznan, bapak dan ibu Blunyah mengunjungi Mbah Ibu (sebutan kami untuk ibunya bapak Blunyah) di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, tepatnya di Bajo, Desa Kedungtuban. Berangkat dari Jogja jam 06.00, sampai di sana jam 10.00. Selama perjalanan dari Jogja-Solo-Sragen-Ngawi-Padangan-Cepu (sekitar 200 km) Haznan tidak rewel sama sekali. Reza, sepupu Jakarta, berkali-kali sms menanyakan kami sudah sampai mana, maklum, bapakku adalah putra tertua di Keluarga (alm) H Dachlan. Bapak ditunggu karena acara HUT Ke-79 Mbah Ibu (Suwarni) sudah mau dimulai, undangan sekitar 200 orang tetangga Mbah Ibu sudah pada datang.

Begitu kami datang, disambut suka cita oleh adik-adiknya bapak, om-paklik dan tante-bulik. Setelah bapak dan aku diberi baju seragam batik, acara pun langsung dimulai. Pembawa acaranya Om Muchlis (Jakarta), pembaca Quran Bulik Ning (Samarinda), pembaca arti Quran Om Yudi (Jakarta), sambutan wakil keluarga H Achmad Shodiq Afandi (bapakku, Jogja) dan pemberi tausiah Om Ladiman (Jakarta). Acara diakhiri pemotongan tumpeng oleh Mbah Ibu diberikan berturut-turut kepada bapakku, Bulik Sus (Blora), Paklik Sahuri (Cepu), Bulik Ning dan Bulik Tatik (Jakarta). Suasana khidmat dan penuh tangis haru menghiasi acara tersebut. Mbah Ibu sengaja menyembelih seekor sapi untuk acara tersebut. ‘’Aku nabung sithik-sithik. Oleh sapi, njur tak nggo acara iki,’’ ungkap Mbah Ibu.

Mbah Ibu adalah istri ‘sambung’ alias istri kedua Mbah Kakung H Dachlan. Bapakku adalah putra tertua dari istri pertama Mbah Kakung. Menurut penuturan bapak, ibu kandungnya meninggal saat bapak sedang bersekolah setara SMA di Kudus. Waktu itu, bapak dikabari ibunya wafat. Beberapa hari kemudian bapak pulang ke Bajo. Sesampai di rumah, bapak sudah ’mendapat’ ibu baru, yang jarak usianya lebih tua dari bapakku sekitar enam tahun. Karena sudah menjadi keputusan Mbah Kakung, bapak pun menerima ibu tirinya dengan lapang dada. Bahkan cintanya bapak sama Mbah Ibu sama saja seperti kepada ibu kandungnya sendiri. Mbah Ibu pun menyayangi bapakku seperti anak kandungnya sendiri. Sing kata, tidak membeda-bedakan. Sehingga sosok bapak menjadi ’pemersatu’ keluarga besar H Dachlan, kekompakan anak-anak H Dachlan tetap terjaga meskipun beda ibu.

Kehadiranku di acara tersebut terasa istimewa sekali. Sebab, aku baru sadar, bahwa kunjungan terakhirku ke Bajo terjadi 1996, alias 13 tahun yang lalu. Aduh, sungguh tak terasa waktu berjalan cepat sekali. Kondisi Bajo sudah sangat berbeda. Jalan tanah masuk ke Bajo sudah diaspal halus, kediaman Mbah Ibu pun sudah disulap Om Ladiman menjadi kediaman yang sangat kokoh dengan kayu-kayu jatinya yang mendominasi. Beda dengan dulu saat terakhir aku datang.

Ada kejadian menarik yang menurutku sangat istimewa. Salah seorang sepupuku, anaknya Paklik Sahuri, sudah selama 27 tahun hidup di Bangka, Sumatra, beranak pinak di sana, bahkan sudah memiliki cucu. Dia ternyata belum pernah melihat muka bapakku. ’’Pakde Shodiq, kulo putranipun Pak Sahuri. Dereng nate kepanggih Pakde Shodiq. Ya Alloh, sak meniko saget kepanggih, alhamdulillah,’’ ujarnya. Pemandangan yang sungguh membuat terharu. ’’Ternyata Pakde Shodiq persis banget karo wajahnya sama (alm) Mbah Kakung Dachlan,’’ ujarnya kepadaku. Semoga acara seperti ini semakin mempererat tali silaturahim keluarga besar H Dachlan yang memiliki 15 anak itu. Amin. (iwa)



No comments: