Thursday, July 30, 2009

Drama Sore Berjudul: Kartu Perpus

Kamis, 30 Juli 2009; Cerita ini sungguh membuat aku terhibur, sekaligus kasihan sama Haznan, anakku lanang (born 20030102). Sore tadi, sekitar jam 16.00, tiba-tiba dia menangis sejadi-jadinya. Bukan menangis karena kesakitan; bukan karena dimarahi Yeng, mamahnya; bukan pula karena lapar karena belum makan. Dia menangis, karena kartu perpustakaannya ketlingsut. ’’Tadi, thik, tak taruh di sini, kok sekarang tau-tau endak ada?’’ ujar Haznan sesengguk-an sambil menunjuk tas ransel warna hijau pupus-nya yang bergambar kartun kodok dan Haznan tulisi ’Si Bolang’ dengan bolpoin.

Sekitar 15 menit “drama kartun“ itu berlangsung di Jakal KM 5 Gang Pangkur 1. Aku tanya pelan-pelan, di mana terakhir kali Haznan meletakkan kartu perpustakaan tersebut. ’’Ya di tas-ku ini,’’ kata Haznan masih menangis.’’Papah kan sudah memasukkan kartu itu di dosgrip (tempat pensil) Haznan? Kenapa dikeluarkan? Dan kenapa ditaruh di dalam tas?’’ tanyaku. ’’Biar cepet ngambilnya, hiks...’’ kata Haznan sambil nangis. Air matanya bercucuran, mbakyunya, Vattaya; Mamah Yeni dan Mbak Dani menyaksikan dengan tersenyum geli.
’’Ya sudah, dicari yuk. Siapa tahu ada di sela-sela buku Haznan. Kalau nggak ketemu bilang sama Ms atau Mr untuk dibuatkan kartu baru ya,’’ bujukku. ’’Nggak mau. Kartu itu nggak boleh dihilangkan. Tapi sekarang hilang, gimana ini?’’ jawab Haznan sambil memperlihatkan body-language yang lucu banget, nangis sambil berjalan mondar-mandir kayak seterikaan. ’’Ya, ampun anakku, kamu kok masih kartun sih. Masih sebulan ini seneng-senengnya sekolah kelas 1 SD, semua perkataan gurunya diartikan secara letter lux alias apa adanya,’’ ucapku dalam hati.
Sebentar saja aku bolak-balik buku tulis Haznan, ternyata kartu perpus itu terselip di antaranya. ’’Ini bukan?’’ tanyaku. ’’Iya. Kok bisa di situ ya? Mesti Mbak Dani yang mindah ke situ,’’ jawabnya. Walah, kok malah nuduh Mbak Dani sih? Selesai sudah hiburan sore hari itu dengan tawa ngakak bersama. Haznan harus ganti baju dan celana, karena basah terkena keringat, saking semangatnya dia menangis. Oalaaaahhh... (iwa)




No comments: