Krisis pangan yang terjadi beberapa tahun terakhir telah menginspirasi ilmuwan kampus untuk lebih kreatif membantu masyarakat. Salah satunya dilakukan para peneliti dari Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) UGM yang membuat ubi ganyong menjadi biskuit bayi.
LAILA ROCHMATIN, Jogja
Ubi ganyong (canna edulis) yang mengandung protein dan mineral bisa dimanfaatkan sebagai makanan alternatif untuk mengatasi gizi buruk pada balita. Salah seorang peneliti yang sekaligus Ketua PSPG UGM Dr Ir Eni Harmayani MSc mengatakan, ganyong merupakan salah satu bahan pangan nonberas bergizi cukup tinggi. Terutama karena kandungan kalsium, fosfor, dan karbohidratnya.
Di antara komoditas ubi-ubian, ganyong memang belum sepopuler seperti ubi jalar atau ubi kayu. Padahal, ubi ganyong dapat diproduksi menjadi makanan yang bervariasi dan lebih mudah dikonsumsi. ‘’Tentunya setelah diubah menjadi tepung. Menariknya, meski sudah menjadi tepung kandungan gizinya tidak berubah. Untuk itu, kami terinspirasi untuk membuat biskuit bayi dari ubi ganyong ini,’’ ujar Eny.
Pemanfaatan ganyong untuk makanan balita, bisa dibuat dalam bentuk biskuit, bubur, atau sereal. Manfaat akan optimal jika dicampur dengan tempe atau ikan. “Ini alternatif saja bagi biskuit bayi dengan memanfaatkan makanan lokal,” tambahnya.
Menurut Eni, dalam ubi ganyong terdapat kandungan kalsium dan fosfor yang lebih banyak apabila dibandingkan pada ubi jalar, padi, jagung, dan kentang. Sehingga, ganyong sangat baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi balita.
‘’Untuk bayi yang belum memiliki tulang yang kuat dan gigi, perlu mengonsumsi makanan yang banyak mengandung fosfor dan kalsium. Salah satu makanan yang mengandung fosfor dan kalsium dalam jumlah banyak, ya ganyong ini,” ungkapnya.
Berdasarkan data Direktorat Gizi Depkes, kandungan gizi ganyong tiap 100 gram terdiri atas kalori 95,00 kalori, protein 1,00 gram, lemak 0,11 gram, karbohidrat 22,60 gram, kalsium 21,00 gram, fosfor 70,00 gram, zat besi 1,90 mg, vitamin B1 0,10 mg, vitamin C 10,00 mg, dan air 75,00 gram.
Menurut Eny, pemanfatan ganyong sebenarnya merupakan hasil penelitian tentang sumber pangan lokal di Gunungkidul. Ini karena di daerah tersebut ganyong banyak untuk bahan minuman cendol. “Di Gunugkidul banyak ditemukan ganyong, terutama di daerah tanah marginal. Namun masih dimanfaatkan untuk minuman cendol,” imbuhnya.
Untuk mengembangkan inovasi ubi gayong sebagai alternatif pangan, PSPG sedang menjalin kerja sama dengan LIPI. ‘’Kami tengah meneruskan penelitian ubi ganyong sebagai bahan biskuit balita Insdonesia pada masa datang,” ujarnya.
Staf pengajar di Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini berharap ganyong bisa menjadi makanan alternatif bagi balita. Eny mengaku prihatin dengan kasus gizi buruk yang mencuat di berbagai daerah akhir-akhir ini. Menurutnya, penyebab gizi buruk pada balita disebabkan masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang gizi dan sumber pangan.
‘’Kasus gizi buruk disebabkan pengetahuan masyarakat terhadap gizi yang sangat rendah akibat akses pendidikan yang rendah. Selain itu, kondisi taraf hidup yang memprihatinkan menyebabkan kemampuan daya beli mereka juga menurun. Sebaiknya pemerintah bersama masyarakat menggalakkan kembali pemanfaatan sumber pangan lokal yang justru lebih murah, mudah dijangkau dengan kandungan gizi yang tidak kalah baiknya,” saran Eny. ***
Tuesday, April 8, 2008
[Rabu 9 April 2008] PSPG UGM Kembangkan Ubi Ganyong sebagai Bahan Biskuit Bayi; Sangat Baik untuk Memperkuat Tulang dan Gigi
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment